Halusinasi = Meruntuhkan Kredibilitas Akademik

Halusinasi itu bukan sekadar salah jawab.

Kalau dibiarkan masuk ke artikel ilmiah, ia bisa menjelma jadi semacam dosa jariyah — dosa yang terus mengalir meski penyebabnya sudah lama berlalu.

Begini bayangannya.

AI membuat satu pernyataan yang keliru.

Kita tambahkan begitu saja ke artikel kita, tanpa memeriksa ulang ke sumber aslinya.

Artikel kita terbit, lalu dirujuk oleh orang lain.

Artikel yang merujuk kita itu, dirujuk lagi oleh orang lain berikutnya.

Begitu seterusnya, berantai, tanpa pernah putus.

Kesalahan kecil yang awalnya cuma satu kalimat, lama-lama dianggap sebagai kebenaran — bukan karena benar, tapi karena terus-menerus disebarkan.

Ngeri sekali kalau dipikirkan lebih dalam.

Wajar saja banyak yang pro dan kontra

Oleh karena itu, saya tidak heran kalau isu penggunaan AI untuk menulis artikel ilmiah ini selalu memancing pro dan kontra.

Apalagi kalau dikaji lebih dalam dari sisi lain: etika akademik, orisinalitas, sampai soal "apa gunanya kita sebagai peneliti kalau semuanya dikerjakan AI".

Semua kekhawatiran itu, menurut saya, valid.

Tapi bagi saya pribadi, jawabannya bukan "haram total" atau "bebas total".

Bukan soal boleh atau tidak, tapi soal bagaimana

Menurut saya, penggunaan AI itu sah-sah saja.

Dengan syarat: digunakan dengan bijak, dan otak kita tetap dipaksa berpikir, supaya tidak tumpul.

Yang berbahaya bukan AI-nya. Yang berbahaya adalah cara memakainya.

Penggunaan yang wajar, dan yang "bar-bar"

Saya sering membedakan dua pola penggunaan AI: yang wajar, dan yang "bar-bar".

Pola yang wajar itu kira-kira begini: semua ide datang dari kita, lalu kita susun jadi semacam daftar perintah yang harus dikerjakan.

Kalau dianalogikan, ini mirip seperti dosen membuat todo list untuk mahasiswa bimbingannya, lalu meminta mahasiswa itu mengerjakannya.

Praktik semacam ini sudah sangat wajar di dunia akademik, jauh sebelum AI ada.

Yang salah itu justru pola sebaliknya — penggunaan AI yang "bar-bar".

Maksudnya, kita memberi perintah dengan konteks yang minim, lalu menyerahkan semua pengambilan keputusan kepada AI begitu saja.

Hasilnya kita terima mentah-mentah, padahal belum terjamin kebenarannya — bahkan seringkali ngawur, alias berhalusinasi.

Dengan cara ini, peran kita jadi terbalik. AI yang jadi pemilik ide. Kita yang jadi "disuruh-suruh" oleh AI.

Agar ketajaman berpikir kita tetap terjaga, saya sangat menyarankan pola pertama tadi.

Kita harus siap menyediakan konteks yang jelas: outline mentah dari kita sendiri, referensi lengkap, contoh artikel sejenis, atau informasi lain yang membuat diskusi jadi detail dan terarah.

Mungkin ada yang berpikir, "lho, itu kan sama saja kita yang disuruh-suruh AI — kita yang disuruh cari referensi, siapkan fulltext paper, dan sebagainya."

Sekilas memang terlihat begitu.

Tapi kita harus bisa membedakan, mana tugas yang butuh expertise, dan mana yang tidak.

Mumpung sedang membahas ini, saya ingin menegaskan: kita adalah pihak yang lebih ahli dari AI yang kita pakai.

Jangan sampai keputusan yang butuh keahlian, kita serahkan begitu saja kepada pihak yang kompetensinya masih diragukan — dalam hal ini, AI itu sendiri.

Kalau semuanya diserahkan penuh kepada AI, yang hancur bukan cuma satu artikel. Bisa jadi kredibilitas keilmuan kita sendiri.

Menyusun outline, dan menentukan referensi mana yang layak jadi dasar state of the art — itu tugas yang butuh expertise.

Butuh pengalaman dalam domain tertentu, yang hanya dimiliki oleh orang yang memang berkecimpung di bidang itu. Bukan AI.

Sebaliknya, tugas seperti mensintesis paragraf dari poin-poin kunci, merapikan teks analisis yang masih berantakan, membuat gambar dari data dengan aturan tertentu, atau menghaluskan tata bahasa — itu tugas yang bisa dibantu siapa saja, termasuk AI, tanpa perlu keahlian khusus di bidang itu.

Menjaga kredibilitas, sambil tetap terbantu

Jadi begitulah cara saya membagi peran.

Keputusan yang butuh keahlian, tetap di tangan kita. Pekerjaan teknis yang bisa dibantu, baru diserahkan ke AI — dengan konteks yang jelas, bukan asal suruh.

Dengan cara ini, halusinasi tetap bisa muncul (namanya juga AI), tapi risikonya jauh lebih kecil, karena setiap keputusan penting sudah lebih dulu melewati kepala kita, bukan kepala AI.

Ini baru menjawab satu dari dua masalah yang saya ceritakan di awal.

Yang satu lagi — soal AI yang tidak pernah mengingat apa-apa dari sesi ke sesi — masih menunggu jawabannya.

Tombol ini membuka WhatsApp dengan pesan yang sudah terisi. Pesan baru terkirim setelah Anda menekan kirim di WhatsApp, dan tidak disimpan di situs ini.