Hilang Memori: Pekerjaan jadi Tak Berarti
Ada satu kisah lama yang terus terngiang di kepala saya setiap kali membahas soal memori AI ini.
Kisahnya dari zaman Jahiliyah, tentang seorang perempuan bernama Rithah.

Rithah menikah dengan seorang lelaki bernama Sukhr, setelah bertahun-tahun menunggu jodoh.
Namun pernikahan itu ternyata bukan karena cinta.
Sukhr menipunya, menguras hartanya dengan dalih hendak berniaga ke Syam, lalu menceraikannya begitu saja.
Rithah hancur. Ia menangis siang malam, tidak mau keluar kamar.
Sampai suatu hari, tangannya meraih alat pemintal peninggalan ibunya.
Ia lalu mengumpulkan gadis-gadis muda, mengupah mereka satu dirham sehari, dan memintal benang bersama-sama dari pagi hingga sore.
Tapi setiap malam, ketika para gadis itu pulang dan Rithah kembali sendirian, ia menjulurkan tangannya ke hasil pintalan hari itu.
Lalu diuraikannya lagi, satu per satu, sampai kembali jadi benang lepas seperti semula.
Esoknya, ia menyuruh para gadis itu memintal lagi. Malamnya, ia hancurkan lagi.
Begitu terus, setiap hari, sampai Rithah meninggal dunia.
Kisah ini bahkan diabadikan dalam Al-Qur'an, surah an-Nahl ayat 92 — perumpamaan tentang sia-sianya mengurai kembali sesuatu yang sudah dipintal dengan kuat.
Kenapa saya jadi ingat Rithah
Ceritanya menyedihkan, tapi ada satu hal yang membuat saya merinding saat pertama kali membacanya: pola itu terasa familiar.
Bukankah begitu juga rasanya bekerja dengan AI yang tidak punya memori?
Setiap sesi baru, saya memintal lagi — mengumpulkan sumber, menjelaskan ulang aturan penulisan, membangun ulang konteks yang sebenarnya sudah pernah saya bangun kemarin.
Chat itu tumbuh, jadi rapi, jadi "kuat", persis benang yang sudah dipintal Rithah bersama para gadis itu seharian.
Lalu sesi berakhir. Dan seperti benang Rithah yang diuraikan lagi tiap malam, konteks itu pun ikut hilang.
Besoknya saya harus memintal dari awal lagi. Upload ulang, jelaskan ulang, ingatkan ulang.
Bedanya dengan Rithah, saya tidak sengaja menguraikan pintalan saya sendiri.
Yang menguraikannya adalah keterbatasan AI itu sendiri — window konteks yang tertutup begitu sesi ditutup.
Tapi hasilnya sama saja: kerja keras hari ini tidak pernah benar-benar menjadi pijakan untuk hari esok.
Pekerjaan yang tidak pernah selesai
Ini yang saya maksud dengan "pekerjaan jadi tak berarti".
Bukan berarti hasilnya buruk. Bukan berarti AI-nya bodoh.
Tapi setiap putaran kerja berhenti di tempat yang sama, tidak pernah terakumulasi menjadi sesuatu yang lebih besar.
Padahal menulis artikel ilmiah itu proses panjang — riset berbulan-bulan, revisi berkali-kali, iterasi yang menumpuk dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Kalau setiap sesi chat mulai dari nol lagi, bagaimana pekerjaan sepanjang itu bisa benar-benar maju?
Rithah terus memintal karena ia sendirian dan bingung untuk siapa ia berdandan.
Saya, dan mungkin Anda juga, terus "memintal ulang" konteks bukan karena bingung — tapi karena memang begitu cara kerja AI chat yang ada sekarang.
Dan seperti Rithah, kalau ini dibiarkan terus-menerus, yang capek bukan cuma tangan. Tapi juga kepala.
Dari sinilah saya mulai berpikir, harus ada cara supaya "benang" yang sudah dipintal itu tidak perlu diurai lagi setiap hari.